Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 April 2022

HIJRAH || CERPEN NUR INDAH SUTRIYAH

HIJRAH || CERPEN NUR INDAH SUTRIYAH

Gambar:Pixabay.com

HIJRAH

Empat bulan yang lalu, kita sedekat kancing dan baju. Hubungan yang awalnya sekadar tahu, berubah menjadi sangat tahu. Awalnya hanya chattingan biasa. Berhias canda tawa dan cerita. Hari demi hari kian menderu, derap langkah kaki kita sampai di titik mengisi ruang kosong yang sepertinya pernah gosong ditinggal sunyi.

Setiap hari, bahkan setiap waktu. Kita selalu dipertemukan dalam keadaan ceria, candu, dan rindu. Sehari saja tidak menyapa, rasanya seperti seminggu. Hidup seakan keruh. Raga kian rubuh bila tak melihat tulisan putih yang tampah di layar biru.

            “Mas, apa kabar? Gimana keadaan kamu hari ini? Sudah lebih enakan nggak?” Tanyaku penasaran. Masih setia menunggu. Waktu sudah berjalan 30 menit, tapi dia masih belum balas pesan wa dariku. Dengan sabar aku masih tetap menunggu, kini waktu sudah berjalan satu jam. Masih tetap sama, notifikasi  balasan wa darinya belum muncul di layar ponselku.

            “Huft sepertinya Mas lagi sibuk. Ah, sudahlah. Mungkin dia sudah baikan.” Pikirku untuk mengusir cemas yang kian menggerutu memenuhi ubun-ubunku.

Aku lanjutkam aktifitasku seperti biasa, membalas chat dari customer setiaku. Ya, kebetulan aku lagi menekuni bisnis olshopku yang sudah berjalan lima tahun terakhir ini. Saat aku balas chat customer, tiba-tiba hp ku bergetar dengan notif nama terpampang Imran Pelangi Cinta. Oohh, tentu saja tidak aku abaikan. Sat set langsung kubuka wa darinya.

            “Hmm, maaf dek lama balasnya. Mas lagi sibuk banget. Seharian ini, Mas lagi interview sepuluh anak untuk dijadiin promotor Oppo.” Balasnya dengan disertai laporan video yang masuk ke HPku.

Sudah menjadi ciri khasnya, jika dia lama balas wa dariku karena ada lasan tertentu, so pasti disertai video.

            “Eh, iya mas nggak apa. Tak kira sengaja nggak balas wa dari aku. Dari satu jam lalu loh, nyepam nggak di bales-bales. Mungkin udah ditimbun longsor dengan puluhan chat dari jari-jari manis orang lain. Entah itu dari user atau dari selir-selir mas yang lain. Hm, entahlah…” kataku dengan mengirim emoji anak dengan bibir mecucu.

            “Jangan suudzon dulu sayangku, kan kamu udah tahu kalau namamu sudah tersemat di hp ku. Jadi siapapun yang wa aku, pasti namamu dan nama bidadari syurgaku ada di atas sendiri. Udah aku sediakan ruang khusus buat kamu dan dia.” Balasnya dengan menyertakan emoji pria yang mencium gadis kecil berbando hati.

            “Hahaha bisa aja, mas. Btw udah makan belum?” tanyaku.

            “Kebablas. Belum sama sekali. Sekarang dimana?”

            “Looh, kok belum makan? Semisal ndak sempat beli langsung, selirnya mas kan banyak di BRC, tinggal titip sama mereka. Beres kan?

“Mosok yahhh.. ngenteni aku merono, terus didulang, bar gelem maem” kataku dalam bahasa Jawa.

            “Hahaha..harusnya sih gitu, dek. Disuapin, samean datang kesini.”

            “Emmohh, aku udah di rumah ini. Oh iya, dari video yang tadi dikirim keliatan banget kalau muka mas kusut, lungset kayak baju baru keluar dari lemari yang nggak pernah disetrika dua tahun. Muka-muka lusuh, capek, kebanyakan yang dipikir, kurang tidur, dasar muka bantal! Ahayyy…yes yes yes, tebakan aku bener 100%.

            “Wkwkwkwk, kamu itu bisa aja buat aku terkekeh kayak gini. Kamu lagi apa?”

            “ Aku lagi mikirin Sin Cos Tangen. Kepanjangan dari deeeeekkkk…sini ke kosan, aku kangen. Wkwkwkwkwk…garing yah, mas nggak lucu.”

            Balasan stiker anak kecil dengan mulut tertawa dan mencium.

***

Sudah dua hari ini, entah kemana. Setelah chat tertanggal 23 Maret 2022 lalu, sampai sekarang belum ada kabar darinya. Dia sudah lagi tidak menyapaku dengan perhatiaanya yang cuma hanya sekadar canda tawa, lewat emoji lucu yang kadang-kadang nggak nyambung. Cara dia membalas wa dariku, memperlakukanku walau hanya lewat virtual saja.

Dua hari sudah, full dia menghilang bagai ditelan bumi. “Hmm kamu kemana sih, mas sudah dua hari ini tiada kabar. Ngilang gitu aja. Bukannya kita sudah berjanji, kalau sampai kapan pun kita tidak akan ngerasa asing. Sekalipun warna pelangi memudar karena biasan sinar mentari.” Kataku sebelum memejamkan kedua netraku.

Tepat jam 23.00 WIB aku terbangun. Jam yang biasanya digunakan kita berdua untuk bercerita melalui video call. Kuambil HP dan kulihat. Masih tetap sama, tak ada kabar darinya dan video call.

Aku pun melanjutkan petualanganku bersama lautan silicon-silicon empuk yang berada di ruang rebah bernuansa batik floral berwarna pink muda. Aih, sungguh nyaman sekali. Tempat yang amat cocok untuk melepas penat dari kegiatan yang menyunggihku.

Malam itu, tepat di sepertiga malam. Tiba-tiba dia hadir dalam ufuk mimpiku. Terlihat jelas sekali, dia datang ke rumah lewat jendela kamarku. Aku pun kaget. Karena selama ini aku tidak pernah memimpikannya. Kemudian dia berbisik di telinga kiriku.

            “Dek …” katanya sembari memelukku.

            Sontak aku kaget dan terbangun “Siapa?”  kataku bingung. Lohh, samean mas?” Kuulurkan tangan, lalu mengusap rambutnya.

            “Iya, Mas. Kenapa? Ada apa? Tumben ke sini. Samean kenapa, mas?”

Disitu suasana kaku, muka lusuh tanpa ada suara beradu. Tak ada jawaban dari dirinya. Hanya bungkam. Yang ada cuma perheletan tangan yang memelukku penuh erat. Ya, makin erat tersimpul di pinggangku dengan kelopak kepala bersandar di belakang punggungku.

            “Dek ….” Panggilnya lirih sembari melendingkan kecupan hangat di keningku.

            “Iya, mas. Sudah, sudah ini sudah larut malam. Besok saja kalau mau cerita” kataku di penghujung mimpiku.

Aku terbangun dari mimpi yang sudah melelapkan tidurku. Ya Allah, kenapa aku bisa mimpi seperti ini? Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dengan, mas? Segera kuambil hp, membuka wa dan chat mas Imran. Menceritakan semua mimpiku tadi tanpa tertinggal satu bagianpun.

Tak butuh waktu lama, selang lima menit dia membalas wa dariku.

            “Engge, dek. Dek, mas ngapunten ing kang katah ngge?” katanya dengan bahasa Jawa.

            “Loh, kenapa mas? Kok tiba-tiba minta maaf gini. Kata-kata samean itu bikin aku penasaran dan takut.” Kataku dengan segudang tanda tanya beralaskan ketakutan.

            “Nggak apa, dek. Selama ini, mas banyak salah sama adek. Mas mohon, maafin semua perbuatan yang pernah mas lakuin sama kamu, ya? Mas ngerasa bersalah, ngerasa berdosa sama adek. Masih teringat jelas, apa yang udah perbuat mas sama kamu.”

            “Samean kenapa tiba-tiba bilang kayak gini? Mas nggak ada salah sama aku.”

“Ehm … kamu inget kejadian di kosan waktu itu? Aku dengan sengaja dan memaksamu untuk membenamkan birahiku. Inget nggak?”

Kejadian itu sungguh tidak akan pernah kulupa. Waktu itu kamu memang benar-benar gila. Saat ku berdiri di samping jendela untuk membuang tisu, tiba-tiba kau datang. Lalu mendekat. Kedua tanganmu merangkulku dari belakang, tanganmu begitu keras melingkar di bahu dan perutku. Kau benamkan wajahmu ditengkuk leherku lalu menghisapnya pelan dan itu membuatku bergetar. Dibaliknya tubuhku kemudian didongakkan daguku agar menatap wajahnya. Aku pun membuka mataku pelan tak sadar kalau wajah mas Imran begitu dekat dengan wajahku. Mungkin hanya berjarak satu inci.

“Aku sangat mengingnkanmu. Apalagi dengan bibirmu yang merah darah itu. Ranum sekali untuk dilewatkan sekejap saja.” Katanya padaku.

Dengan sergap dia menyambar bibirku dengan kasar. Sontak mataku terbuka lebar karena terlalu kaget dengan yang dilakukan mas Imran padaku. Namun perlahan mata itu terpejam, ciuman pun semakin terasa lembut. Digigitnya bibir bawahku, membuat aku membuka mulutku dan lidah mas Imran mulai menyusup di antara kedua bibirku. Kemudian dilingkarkan kedua tanganku di lehernya. Diangkatnya tubuhku agar kedua kakiku berdiri sejajar di atas kedua kakinya.

            Sesaat mas Imran melepaskan ciumannya untuk sesekali bernafas. Lalu dia kembali melumat bibirku, perlahan tapi pasti ciuman itu turun ke leherku. Membuatku mendesah lirih. Saat kawah candra di muka mulai mendidih, mas Imran semakin menggila. Dibantingnya tubuhku ke atas ranjang sampai aku terpental. Dilancarkan aksinya sekali lagi hingga buatku tertindih tak bisa berkutik lagi.

            “Lepaskan aku. Mas Imran jahat!” kataku saat bibirnya mulai memenuhi bibirku.

Dilumatnya kembali bibirku lebih ganas hingga terasa perih tersisa. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya aksi itu selesai. Aku pun menangis deras. Kenapa mas Imran tega padaku. Apa salahku?

            “Sungguh aku tidak bisa mengontrol. Apalagi saat kau diam dengan bibirmu yang merah membasah. Aiihh…buat otakku nggak karuan. Sudah, sudah jangan nangis gini. Kalau kayak gini, aku jadi ngerasa bersalah.” Ditarik kepalaku dengan lembut kemudian dibenamkankan di dadanya yang lebar.

            “Aku sayang kamu, dek. Amat sayang.” Katanya pelan sembari mengusap air mata yang menganak sungai di pipiku. Tidak sampai disitu, ketika aku sudah mulai luluh dia kembali mencium bibirku. Kali ini sangat lembut. Mungkin dia tahu kalau bibirku sudah mulai menipis. Tapi memang itu benar. Sesaat setelah ciuman itu selesai, aku merasa ada yang beda dengan tektur bibirku.

“Oh, kejadian itu, udah aku maafin. Dalam hal ini, aku yang salah karena aku terlalu bodoh untuk menerima ciuman dari bibirmu. Meskipun ada penolakan sedikit. Tapi, mas tenang saja aku udah maafin kok.”

            Mengirimkan video, yang di dalamnya terdapat orang melantunkan ayat-ayat suci al-quran.

            “Aku di rumahnya guru ngajiku dari semalam. Belum tidur sama sekali. Udah lama tidak kesini, tiba-tiba kemarin malam aku pengen kesini. Imran yang dulu, nggak seperti yang dulu. Emylio yang dulu kelihatan keruh tak sebening dulu lagi. Seketika aku nangis, nangis, dan nangis.” Katanya disertai emoji menangis.

            “Samean hijrah, mas?” celetuk aku, karena aku tahu kalau dilihat dari gelagat chatnya dia bakal hijrah dan kembali ke jalan yang benar.

            “Dua hari ini aku gelisah. Aku ngerasa, kemelut dalam hidupku sudah mulai berkecamuk. Asap yang menyembul dari keagungan masalah sudah merata memenuhi penglihatanku. Sesekali membuat dadaku sesak, sulit untuk bernapas. Aku bingung, hal apa yang harus aku lakukan. Selain hijrah dan kembali ke jaln-Nya.

Akhirnya aku putuskan ke rumah ustadz ngajiku sewaktu aku kecil dulu. Akhirnya maghma panas yang udah bikin kepala dan dadaku panas, aku tumpahkan ke lahan kecil penentram jiwa. Aku tumpahkan segala isinya dengan segala pecahan-pecahan dosa merah darah, yang mengalir deras ditubuhku.” Paparnya.

            “Mas, samean lagi banyak masalah, ya? Maaf aku sudah mengusik, mas.” Kataku dengan tak sadar menggulirkan bulir-bulir bening dari pelupuk mata.

            “Iya. Maafin mas, dek. Mas banyak salah. Kamu orang baik, baik banget malah. Sering membantuku dengan sejuta canda tawamu dan sedikit tunjangan dari dompetmu. Bantu doa ya, dek. Doakan mas agar hari-hari selanjutnya lebih berwarna. Jangan lupa, doakan mas. Agar mas selalu sehat dan panjang umur. Biar mas bisa memperbaiki semuanya.” Katanya sembari menangis.

            “Alhamdulillah. Hal ini lah yang aku tungu-tunggu dari seorang Reader Birunya Cinta. Aku senang, kalau mas bisa berubah kayak gini. Bisa kembali ke arah mata angin yang sesungguhnya. Mas jangan khawatir, aku sudah maafin semua kesalahan mas. Aku doakan semoga kedepannya kehidupan mas lebih berwarna dan semakin berkah. Aminnn…” jawabku dengan perasaan senang dan haru.

            “Terimakasih, dek. Aku sekarang sudah lega. Pertama, aku minta maaf ke kamu dulu, yang kedua nanti mau ke makam umi dana bah. Dan yang terakhir, aku akan ceritakan semua dosa-dosaku sama istriku. Semoga dia mau memaafkanku, menerima aku dengan segala kekuranganku.

            “Iya, mas. Semoga mbak bisa memafkan semua kesalahan, mas. Akhir cerita, apakah mas mau ninggalin aku?” kataku menegaskan sebelum akhir cerita dituntaskan.

            “Mas nggak akan pernah ninggalin kamu. Nggak akan pernah. Mas akan selalu ada di sini saat kamu butuh. Kita tetap sedia kala, Cuma ada batasan-batasan yang harus kita tunaikan demi kebaikan bersama. Begitu juga dengan yang lainya. Aku tidak akan memutuskan tali silaturahmi dengan siapapun. Apalagi dengan cewek sebaik kamu.” Katanya memelankan deru nafasku.

            “Terimakasih, mas. Semangat yah.” Kataku mengahiri pembicaraan kuncup pagi yang baru mekar di tengah alunan adzan subuh.

Akhirnya, keakraban yang terjalin selama empat bulan itu, sirna dihapus waktu. Katanya dia ingin kembali wangi dan menjadi biksu berkepala botak, yang bermanfaat bagi bianglala di kuilnya. Ya, Lima Tujuh namanya. Bukan hanya itu, dia juga ingin menjadi suci sebening embun pagi yang menetes di pagi hari, untuk selir-selir kehidupannya di masa mendatang. Menjadi pondasi kokoh seperti cagak di dalam rumahnya, menjadi panutan untuk bidadari syurga dan tunas-tunasnya.

_______________________________________________

Biodata

Nur Indah Sutriyah lahir di kota Pasuruan pada tanggal 08 November 1992. Merupakan salah satu alumnus Universitas Wiranegara Pasuruan. Ia menyukai karya sastra, terutama puisi dan prosa.  Saat ini ia sedang tergabung di grup Competer Indonesia yang didirikan oleh salah satu sastrawan puisi, yaitu Muhammad Asqalani Eneste. Puisi-puisinya pernah dimuat di media Dermaga Sastra dan Riau Sastra.

 

Sabtu, 19 Maret 2022

PEREMPUAN DALAM PELUKAN FIKAS || CERPEN ARIS SETIYANTO

PEREMPUAN DALAM PELUKAN FIKAS || CERPEN ARIS SETIYANTO

 Perempuan Dalam Pelukan Fikas

Gambar dari  pixabay.com

Kau mendekat demi melihat wajah perempuan 

dalam pelukan Fikas itu dan mengenalinya sebagai dirimu sendiri.

Seperti anjuran kepala desa, kau dan beberapa tetanggamu musti pindah dari rumah saat ini karena daerah sekitar rumahmu yang berdekatan dengan perbukitan terancam akan tertimbun longsor jika musim hujan tiba nanti. Kau sempat menilik rumah barumu yang dibangun secara sukarela oleh para warga. Memang hanya rumah bambu yang sederhana, namun cukup nyaman dan siap menangkal terik mentari juga lebat hujan. Terlebih-lebih terhindar dari ancaman longsor karena terletak di tanah lapang di pinggiran desa.

   Kau sempat menuruti anjuran itu dan akhirnya beberapa minggu lamanya menetap di rumah baru. Tetapi kemudian kau kembali lagi setelah Fikas, anak semata wayangnmu yang bertugas di kota nun jauh mengabarimu tentang kepulangannya beberapa hari yang akan datang. Sampai kini kau masih tak menyangka bahwa Fikas bisa menjadi seorang perwira. Dia memang hanya seorang anak petani, rakyat jelata, namun ambisinya yang besar membawanya kepada realita di atas tapak mimpinya. Suamimu yang telah meninggal sejak Fikas masih sangat belia menambah riwayat ketidakmungkinan perihal mimpi Fikas. Untuk menyekolahkannya saja kau mengandalkan bantuan dari pemerintah.

   Hari-hari yang kau lalui begitu berat sejak Fikas meninggalkan rumah untuk pendidikan militernya. Kau sempat dibawa olehnya ke kota saat hari kelulusannya tiba. Fikas kemudian mendapat pangkat, ditugaskan dan perpisahan kembali terjadi. Meski kau amat kesepian karenanya, karena kemudian Fikas bak hilang ditelan detak waktu dan tak pernah berkabar, tetapi kau jugalah yang paling bahagia di antara siapapun bahkan Fikas yang menjalaninya sekalipun.

   "Sepertinya malam ini akan hujan. Lihatlah, langit mendung. Sebaiknya kau tidak usah pulang sore ini. Lagipula, kan, Fikas juga tidak memberitahumu kapan persisnya ia akan pulang ke rumah." saran salah seorang tetanggamu.

   "Mendung tidak berarti hujan." katamu.

   Kata-kata dari bibirmu sepertinya tak membuat ombak buas di hati tetanggamu menjadi tenang. Kau begitu paham bahasa tetangga yang mencemaskanmu itu, kau menepuk pundaknya dan berjalan melewatinya. Kau tak mengucapkan sepatah kata pun lagi, hanya sesungging senyum terlukis di wajah sebagai isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja.

   Pukul sembilan malam. Kau yang tak dapat tidur memutuskan untuk berjalan ke dapur—membuat minuman hangat. Apakah dia akan pulang malam ini? Apakah besok pagi? Atau apakah dia bahkan sudah memasuki gerbang desa? Apa yang sebaiknya aku persiapkan? Pertanyaan-pertanyaan itu terus terlagukan di kepalamu. Dan melihat rumah yang kotor karena ditinggalkan lama, kau pun memulai dengan membersikannya. Kau tentu tak mau jika nantinya Fikas merasa tak nyaman berada di rumah itu.

   Pukul sepuluh malam, rumah telah bersih. Tubuhmu yang berselimut peluh itu tergolek di ranjang usang dan berangsur menjelangi mimpi. Saking lelapnya kau bahkan tak tahu jika malam itu hujan mengamuk di luar rumah. Terpasung mimpi.

***

   Tangan yang hangat itu menggenggam lembut tanganmu. Kau terbangun dan segera tersenyum melihat seseorang di samping ranjangmu, tetapi air mata juga melinang dengan derasnya. Kau bangun, lelaki berseragam itu mendekap erat tubuhmu dan punggungmu mulai basah sejak ia mulai terisak. Fikas akhirnya pulang, dan kau tak dapat menyembunyikan kebahagiaan hatimu.

   "Ibu," panggilnya.

   Ada banyak kata sejak Fikas memanggilmu. Namun, entah mengapa bibirmu membisu di ketika itu. Kau pun hanya dapat menatapnya dalam keheranan.

   Apa yang terjadi? Batinmu.

  "Ibu!" Fikas tetiba berteriak.

  Kau tersentak dan mendapati dirimu berpakaian serba putih, sedang kau yakin betul terakhir kali kau memakai lurik. Kau berdiri di dekat rumahmu yang telah ambruk ditelan longsoran, berdiri di antara kerumunan. Fikas dan jasad yang penuh lumpur yang terus dipeluk dan ditangisinya adalah pemeran utamanya. Siapa perempuan itu? Batinmu lagi. Tetanggamu yang sempat memperingatkanmu tentang hari terjadinya hujan kemarin juga ada di sana. Ia ada di dekat Fikas dan sesekali mengusap-usap punggung Fikas, air matanya juga tak ingin kalah—mengalir begitu deras.

  Kau mendekat demi melihat wajah perempuan dalam pelukan Fikas itu dan mengenalinya sebagai dirimu sendiri.

_______________________________________________________________________

Biodata : Aris Setiyanto lahir 12 Juni 1996. Tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Karyanya termuat di; Majalah Kuntum, Koran Purworejo, Koran BMR FOX, Majalah Raden Intan News, Harian Sinar Indonesia Baru, Radar Pekalongan, Majalah Elipsis, Majalah Apajake dll.


Sabtu, 19 Februari 2022

PASAR MALAM DAN SEISINYA || UNIQIA SOLU

PASAR MALAM DAN SEISINYA || UNIQIA SOLU

 Pasar Malam dan Seisinya

Gambar: Pixabay.com

Ini pasar malam langka pertama yang terkunjungi sepanjang sembilan belas tahun usia saya. Awalnya saya tidak percaya, kata teman-teman saya mereka tidak hanya menemukan kembang gula atau kue putu di sini, melainkan menemukan sepotong hati atau bahkan patahan tulang rusuk. Saya pikir ini mengerikan, tetapi teman-teman saya menolak opini itu. Hingga saya sendiri penasaran dengan isi pasar malam ini.

Ada banyak lapak di sini, masing-masing menyajikan hidangan yang jarang kutemui. Tentunya bukan kue molen atau kacang rebus. Aroma asapnya sama sekali asing dihirup. Saya pun masih tidak mengerti dengan apa yang mereka jual. Di mana penjual hati? Di mana penjual tulang rusuk? Saya terus celingukan mencari di mana letak kedai penjualnya, kata teman sih letaknya tidak terlalu terpencil dari penjual lainnya.

Nyaring suara-suara penjual menjajakan dagangan nyaris terdengar dari seluruh lapak.  Namun yang paling nyaring di sebelah barat saya berdiri. Letaknya, di dekat lapak yang sedang tutup. “Dipilih-dipilih cermin seratus ribu saja, bisa melihat seperti apa diri anda. Dipilih-dipilih.” Lapak itu dipadati muda dan mudi, saya melihat perempuan rambut pirang dengan kalung salip di leher putih jenjangnya, saya juga melihat perempuan berkerudung panjang sepinggang dengan tasbih yang diputarnya pelan, saya melihat pula lelaki bertindik dengan jaket Levis kumal sekaligus celana berlubang, dan saya melihat lagi lelaki bersarung, berjaket hitam sedang menyilangkan lengan. Saya tidak mengerti, bisa-bisanya mereka antusias sekali hanya untuk membeli sebuah cermin. Apa cermin-cermin di rumah mereka sudah buram, atau mungkin pecah? Apa istimewa cermin di kedai itu sehingga mereka tidak memilih membeli cermin di toko lain saja. Sampai berdesakan seperti itu pula. Saya berniat ikut gabung dengan mereka, tetapi karena antrean terlalu padat saya berubah pikiran.

Setelah meninggalkan lapak itu, tak sengaja saya bertemu kawan lama. Dia banyak melambungkan obrolan sampai-sampai jatuh juga pertanyaan buat apa saya berkunjung di pasar malam ini, sedangkan saya menjawab dengan sebenar-benarnya bahwa saya hanya penasaran akibat dijejali rumor oleh teman-teman bahwa ini bukan sembarang pasar malam.

"Pasti kau sedang mencari sesuatu untuk perasaanmu,'kan? Mungkin itu alasan mengapa temanmu menjejali rumor itu agar kau penasaran dan ke mari. Oh iya, kenapa tidak ikut memburu cermin di lapak itu? Cerminnya bagus loh. Menurutku cermin itu cermin yang jujur. Di sana kau bisa melihat dirimu tanpa memedulikan sisi cantik saat kau bercermin. Justru kau akan nyaman saat menangis di depannya," ucapnya panjang lebar. Sedang saya membatin, pantas saja antre ternyata cermin itu juga memiliki sisi istimewa bagi orang-orang di sini.

"Oh iya, omong-omong aku juga punya kedai untuk kauceritakan kembali pada temanmu itu. Menu di kedaiku sangat berbeda dan tidak dibayar dengan uang. Khusus kau, khusus orang-orang yang kusukai," imbuhnya lagi.

Lalu tanpa perizinan langsung dari saya, dia membawa saya ke kedainya dan saya menurut. Itu yang membuatnya yakin bahwa saya menyetujui. Sebab tidak ada sama sekali penolakan dari saya. Kedainya tidak jauh berbeda dari seluruh kedai di pasar malam ini, akan tetapi tidak ada daftar menu di kedai miliknya. Saya hanya duduk dan kawan lama saya itu tidak lama membawakan cemilan.

"Saya rasa ini bukan kedai, ini seperti gazebo yang sengaja kaudirikan di pasar malam ini. Saya tidak melihat daftar menunya, padahal saya kepingin sekali mencicipi menu yang kauolah. Dulu kau jurusan boga saat di sekolah kejuruan,'kan?"

"Tidak begitu Akasia. Cobalah kautenang di kedai ini. Sebab daftar menu itu akan muncul dengan sendirinya dari otakmu jika kautenang."

Dahi siapa yang tidak berkerut dengan pernyataannya, apa ini kedai paling mutakhir di penutupan akhir tahun dua ribu dua puluh satu? Apa sekarang daftar menu tidak dijadikan banner dan langsung diinstal ke otak para pengunjung? Sejauh ini saya rasa pasar malam ini memang aneh, termasuk kawan lama saya ini pula.

"Sudah berapa lama kaubuka kedai ini? Kenapa tidak mengundang saya sewaktu peresmian? Kau melupakan saya?" canda saya sebab tidak tahu lagi ingin melontarkan basa-basi apa.

"Baru saja. Semenjak aku putus. Tentu aku tidak mengundangmu, peresmiannya sangat penuh kesedihan. Aku takut kau tak senang."

Bagaimana mungkin saya terlihat sebagai orang paling normal di sini, ketika kawan lama saya sendiri berbicara melantur. Tempat macam apa sebenarnya ini? Mata saya berkeliling ke berbagai penjuru, melihat orang-orang itu berebut air di toples bertuliskan "Air Mata" selayak berebut gelato paling murah. Kasak-kusuk yang tertangkap di telinga saya, mereka telah kehabisan air mata ataupun ada juga yang air matanya telah kering akibat rindu yang menyiksa. Ada juga yang memborong rembulan. Saya tidak yakin itu rembulan sungguhan, pasti itu tiruan. Mereka bersorak dengan membawa rembulan itu; malam tidak akan pergi dan akan semakin panjang dengan rembulan yang kita bawa ini. Ada juga yang rela membayar mahal untuk sebuah janji. Saya pun tidak percaya malam ini melihat wujud janji, sayangnya janji itu telah dikemas. Saya hanya tahu bahwa lelaki itu bilang bahwa dia rela membeli janji dengan harga paling tinggi sebab pacarnya tidak tertarik dengan janjinya yang sudah rusak. Sekali lagi saya menelan ludah dari semua keanehan di pasar malam ini. Pasar malam yang dipamerkan di papan iklan dengan embel-embel kata istimewa itu menurut saya memang bukan pasar malam biasa.

"Akasia kausudah menemukan menu di kepalamu? Kausedang memilihnya,'kan?"

"Tidak Rosse, saya hanya mengamati mereka yang berebut air mata, membeli janji, membawa rembulan. Apakah ....."

"Bukannya kau ke mari juga untuk mencari seperti apa yang mereka cari?"

"Tentu tidak. Saya hanya penasaran, kalaupun saya ingin mencari, saya hanya akan mencari mendoan dan onde-onde hangat di sini.  Bukan apa yang mereka beli."

Kawan lama saya, Rosse, tersenyum simpul.

"Jujurlah, bukankah onde-onde dan mendoan itu kenanganmu bersama Roland saat berkencan?"

Sial. Bagaimana Rosse tahu. Apa di sini juga ada cctv kepala? Mati-matian saya menghindari nama itu, tetapi detik ini Rosse menunjukkannya pada saya lagi. Sial, betul-betul sial. Lama saya dan Rosse saling diam. Saya masih enggan melanjutkan percakapan yang berisi nama itu. Saya tidak siap untuk benci dari peranakan rindu padanya.

"Kau tidak harus membeli mendoan dan onde-onde sebagai kiasan kenangan. Cobalah mencari sepotong hati yang baru dimasak. Setidaknya itu kautemukan untuk dirimu. Bukan Roland juga."

"Kau tahu, kau sudah memilih menu yang tepat di kedai milikku ini, sebentar ya, aku akan ambilkan sepotong hati bumbu spesial untukmu. Kautinggal menaburkan garam bila rasanya terlalu hambar atau sedikit gula saat rasanya tawar."

"Sesungguhnya hati lebih layak dikonsumsi oleh orang dewasa, ketika kebanyakan dari mereka sudah biasa menelan yang pahit-pahit dan terbiasa memelihara rasa sakit. Namun kalau kau mencobanya sedikit saja kurasa tak masalah," ucap Rosse saat menyuguhi saya nampan yang katanya berisi hati yang baru matang.

"Kau tidak bertanya bagaimana cara menikmatinya? Harus kukatakan bahwa caranya sedikit berbeda dari menikmati bolu hangat dari mesin pemanggang. Namun tidak serumit menikmati kepiting dan kerang di resto terkenal, kok!"

Saya banyak diam dengan obrolan ini. Pasalnya saya baru kali ini akan mencicipi hati yang dihidangkan, saya tidak tahu apakah saya alergi atau tidak. Saya takut kalau rasanya getir di lidah, jujur saya belum pernah disuguhi hati senampan.

"Permisi, apa saya masih bisa pesan cinta?" tanya seorang pelanggan yang katanya ingin mencicipi cinta. Aku juga baru tahu kalau Rosse ternyata menjual menu-menu aneh.

"Tentu saja masih. Apa kau juga akan membeli potongan hati?" jawab Rosse sambil berjalan ke dapur, menyiapkan pesanan.

"Tentu saja. Jangan lupa selipkan tisu untuk air mataku yang sewaktu-waktu tumpah karena dua barang itu," balas pelanggan itu lagi.

"Baik. Jangan lupa ke mari lagi bila kau ketagihan, ya. Hanya di sini lapak yang menjual cinta dan hati paling enak."

Saya menyimak obrolan Rosse dan pelanggannya. Malam semakin larut, pasar malam semakin ramai dan kedai milik Rosse mulai banyak pembeli. Mereka membeli hati, cinta dan ada juga yang tidak memesan apa-apa. Ketika Rosse bertanya akan memesan menu apa, lelaki itu menjawab hanya ingin menikmati malam dan melerai keributan-keributan di pikirannya sejak tadi siang (*)

______________________________________________

BIODATA

Foto Penulis








Gadis dengan nama pena Uniqia Solu, gadis asal Madiun yang baru saja merenangi dunia literasi sejak tahun 2019 lalu. Statusnya kini sebagai mahasiswa di sebuah kampus literasi STKIP PGRI Ponorogo. Program studi yang diambilnya sangat mendukung sekali hobi menulisnya. Beberapa kali memenangkan lomba menulis cerpen dan puisi, tergabung dalam Competer Indonesia dan Kepul. Selain itu dia merupakan admin dari komunitas kepenulisan yakni Sarasayu Books Community dan Jamedia Publisher lini dari Elsage Publisher. Dia punya Mading kesayangan di kamar yang berisi harapan dan tulisan-tulisan lainnya. Sapa dia di Ig: Solu.ryka26 FB: Solu Rika Twitter: UniqiaS dan jangan lupa follow Ig keduanya yang memposting quotes-quotes, ya! @_aksara.uniq.

 

Minggu, 13 Februari 2022

DI MANA MAMA? || RISKA WIDIANA

DI MANA MAMA? || RISKA WIDIANA

  DI MANA MAMA?

Gambar: Pixabay.com

      Fahrian termenung di depan teman-temannya saat ditanya beberapa kali oleh gurunya. Bu Elfina, mengenai perwakilan orang tua yang bakal hadir untuk acara kelulusan mereka besok. Jika tidak seorang Ayah, setidaknya ada seorang Ibu yang akan mewakilkan. Namun Fahrian tetap bingung memikirkan siapa yang harus ia tentukan. Si Ayah tentu tidak mungkin. Sudah 4 tahun ia tinggal bersama neneknya tanpa orang tua.

        Ibu kandung Fahrian bercerai dengan Ayahnya, kemudian memilih pergi setelah usia Fahrian 3 bulan, lalu menikah kembali dengan lelaki lain. Sekarang entah di mana kabar ibu kandungnya itu, sebab tidak pernah setitik terang pun terjelaskan atau ditemukan. Fahrian akhirnya tinggal bersama neneknya yang sudah tua, beserta ibu tiri dan Ayah kandungnya.  Sedangkan biaya hidup Fahrian dipenuhi oleh adik Ayahnya yang kini tinggal di Jakarta menetap bersama suaminya, Naisa rutin mengirimkan uang kepada ibunya setiap bulan demi memenuhi kebutuhan Fahrian. Setelah ia menginjak kelas 4 sekolah dasar, sang Ayah memutuskan pergi ke Medan beserta istrinya, dengan alasan usaha istrinya yang begitu besar tidak mungkin diabaikan. Mereka berjanji akan sering mengunjungi Fahrian bahkan mengirimkan uang, seperti yang Naisa lakukan. Akan tetapi manusia hanyalah manusia, janji itu ditelan pahit oleh Bu Juriah dan Fahrian, mereka tetap mengandalkan biaya Naisa di Jakarta untuk kebutuhan hidup. 4 tahun sudah, setitik kabar pun nihil dari Ayah Fahrian dan istri barunya. Karena nihil oleh kabar tersebut, Bu Juriah memutuskan berhenti untuk mencari kabar itu. Jadilah Fahrian hidup berdua dengan neneknya dengan mengandalkan biaya dari anak bungsu Bu Juriah, Naisa.

         Kembali kepada Fahrian yang berdiri tanpa menjawab pertanyaan Bu Elfina, sebagai wali kelas tetap menunggu jawaban dari Fahrian, teman-temannya juga menunggu. Sejenak ia masih berpikir siapa yang ia sebut sebagai orang tua untuk mewakili. Akan tetapi ia segera menjawab.

“Sepertinya yang akan mewakili Fahrian besok, bukanlah orang tua saya bu. Melainkan nenek saya. Apa boleh?”

Dengan polos ia bertanya. Bu Elfina tersenyum, kemudian mengangguk dengan senyuman manis. Sedangkan matanya menghangat, perlahan butiran air mata mengalir membasahi pipinya. Bagaimana tidak, semua teman-teman Fahrian akan diwakili oleh orang tua mereka. Sedangkan Fahrian sendiri hanya bisa mengandalkan neneknya yang sudah tua dan bungkuk untuk mewakilinya besok.

“Besok bukan hanya nenek Fahrian saja yang akan jadi perwakilan, ibu juga akan menjadi wali kamu sebagai orang tua.”

Fahrian tersenyum dengan bahagia. Sedangkan Bu Elfina memeluk Fahrian dengan perasaan sedih teramat dalam juga penyesalan yang telah ia lakukan dua belas tahun silam.

 

Riau, 2022

____________________________________________

 Biodata 

Penulis

Riska Widiana, berdomisili di Riau. Aktif menulis sejak 2020. Tergabung ke dalam komunitas menulis yaitu (kepul) kelas puisi alit dan kelas menulis bagi pemula. Alamat Facebook Riska widiana dan instagram riskwidiana97        

Minggu, 28 November 2021

Dia Semangatku

Dia Semangatku

Pixabay. Com


(Hanya mampu menatapmu dari jauh. Mencintaimu dalam diam dan memilikimu dalam mimpi saja sudah cukup bagiku. Namun jika mimpiku menyebrang ke dunia nyata maka aku akan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini. Beruntung bisa memilikimu.)



Hay…. Perkenalkan nama ku Mawar Purwati. Aku mahasiswi semester V di salah satu universitas ternama di flores, Nusa Tenggara Timur. Aku mempunyai teman bernama Aulia, upsss lebih tepatnya sahabat. Dia sering kali mengutarakan isi hatinya kepadaku. Dan kami berteman sejak awal masuk kuliah. 

Hari ini aku sangat bersemangat untuk berangkat pagi ke kampus padahal jadwal kuliah hari ini jam 10.00. Sengaja aku datang lebih awal karena hari ini adalah hari dimana Kak Ridwan, salah seorang kakak semester VII ku yang terlihat tampan, pintar, rajin, wibawa dan pastinya hari ini jadwal kuliahnya jam 07.30. Kesempatan aku bisa melihatnya pada waktu pagi hanya sekali dalam seminggu, yakni hari jumad. Selain hari itu, aku pasti berangkat bersama Aulia yang kebetulan rumah kami satu jalur.

Kulangkahkan kakiku menuju motor kesayanganku, aku tidak mau kehilangan kesempatan yang baik kali ini. Dan ya, akhirnya aku berhasil mencapai garis finish, yakni membawa motor dengan kecepatan yang lumayan bikin panik. Ku lihat di arlojiku, waktu menunjukan pukul 07.15 WIT. 

Dan akhirnya kulihat seorang laki-laki berjalan menuju kelasnya, dan ya… itu pasti dia, kakak seniorku semester VII yang aku maksut. Belum lama aku menerka-nerka, datang seorang laki-laki dari belakangku. Dia menyapaku, dan langsung mengajakku mengobrol.

“hai….ade.” sapanya memulai pembicaraan.

“hai juga kak.” Balasku sembari menoleh ke arah samping. “Kak Ridwan? Ini benaran Kak Ridwan?” tanyaku keheranan dan gugup.

“iya saya Ridwan Purnawan. Ada yang salah kah?”

“Nggak… hanya saja, dari mana Kak Ridwan tahu namaku?”

“Dari sahabat baik mu.” Jawab Kak Ridwan sembari tersenyum. “Ngomong-ngomong, pantun yang kamu buat bagus loh… aku suka.”
 
“Hah…? Masak sih kak? Memangnya kakak lihat dimana?” tanyaku kegirangan.

“Aku lihat di Mading fakultas Ekonomi.” Jawabnya sembari tersenyum tipis.

Waktu pun pukul 07.29, Kak Ridwan bergegas masuk ke kelas. Dan aku pun bergegas ke kantin untuk mengisi perut yang tidak bersahabat ini.

Hari-hari kulewati dengan hati yang gembira. Aku menjadi semakin rajin belajar. Dan aku juga selalu berangkat lebih awal dari biasanya. Hingga suatu ketika, kulihat Kak Ridwan sedang berduaan dengan seorang perempuan yang menurutku itu pacarnya. Hatiku hancur kala itu. Aku benci Kak Ridwan. Benar-benar benci. Meskipun dia berusaha mengajakku mengobrol atau bahkan sekedar menyapa, tetapi aku tak pernah menanggapinya. Hingga suatu ketika dia mengirimku pesan lewat facebook.

Keesokan harinya aku dan Kak Ridwan janji bertemu di depan Fakultas Ekonomi. Aku pun berjalan ke perpustakaan seorang diri tanpa mengajak Aulia. Sesampainya disana aku merasa sangat gugup dan sangat konyol.

“Mawar… disini aku hanya mau bilang ke kamu kalau aku juga....” Kata Kak Ridwan.

“juga?” tanyaku keheranan. “juga apanya Kak? Juga minta maaf? Atau juga yang lain?” sambungku penuh tanya. Aku berharap ada rasa yang sama denganku kalo Kak Ridwan juga menyukai ku.



“Aku juga menyukaimu.”timpal Kak Ridwan Singkat.

“Hah? Jadi?” Tanya ku sembari menghayal yang tidak-tidak.

“Jadi… aku mau kita berteman lebih dari sekedar teman.”

“jadi pacar?” Tanyaku sembari tersenyum didalam hati.

“bukan.” Sahut Kak Ridwan.

“lantas?” tanyaku mulai menampakan raut muka kecewa dan malu.

“hehehe aku mau kau jadi wanita pertama yang melengkapi hidupku dan selalu memberi warna baru dalam hari-hariku.” Ucap Kak Ridwan.

Seketika jantungku berdebar, muka ku memerah dan oh Tuhan betapa bahagianya aku hari ini.
Mulai saat itu,, aku dan Kak Ridwan menjalani hari dengan penuh kebersamaan. Dia sering mengajariku mata kuliah yang belum aku paham dan mengerjakan tugas kuliahku karena kebetulan aku dan Kak Ridwan satu Fakultas dan sama-sama Prodi Akuntansi, mengajakku untuk pergi jalan-jalan, mengajariku bermain gitar, mengajakku untuk selalu membuat karya-karya yang mengesankan, dan masih banyak hal lain yang ia lakukan untukku. Aku senang mempunyai seorang kekasih sekaligus Kakak yang sangat pengnertian padaku. Semoga ini terus berlanjut sampai nanti kelak.

***

____________________________

Maria Yomianti Poling, mahasiswi UNIPA Program Studi Akuntansi Semester 5.




Sabtu, 06 November 2021

First Love in Senior High School

First Love in Senior High School

 


Di awal pertengahan bulan Juli 2015, aku masuk di sebuah sekolah swasta yang terkenal di kotaku. Tempat yang menjadi awal pertemuanku dengannya. Tempat yang menjadi saksi bisu atas semua kata dan kisah yang kami rangkai bersama. Awalnya aku selalu berusaha menyembunyikan rasa yang selalu melonjak dalam hatiku saat ku beradu pandang dengannya. Terkadang ada secuil keberanian yang mucul untuk menyampaikan rasa ini namun itu tak pernah kulakukan.  

Kedekatanku dengan seorang cowok yang adalah kakak kelasku sendiri, ternyata telah menyita perhatianku. Di sekolahku ia terkenal sebagai cowok cuek yang anti cewek, dan aku hanyalah siswa baru di sekolah yang berani menyimpan rasa padanya. Namanya Alvaro Bagaskara Putra. Dia mampu membuat siapa saja jatuh hati pada senyumnya Bagiku senyumannya adalah sebuah candu.

 Tetapi tidak dengan sahabatku Aura, ia selalu saja berkata "Yang benar ajah kamu Alana, masa mau sama cowok dingin seperti dia? Kayanya dia punya banyak cewe,deh. Memang cinta kadang bikin bodoh." Namun aku sama sekali tidak menghiraukan perkataan aura, aku selalu mengganggap Alvaro adalah yang terbaik.

Suatu pagi 20 Juli 2015, langit memancarkan kecerahannya seperti ikut merasakan kegembiraan hatiku. Dengan menenteng tas kecil berwarna hitam di punggungku, aku berjalan menuju sekolahku ditemani suasana kota yang mulai terlihat ramai. Kuputar sebuah musik favoritku melalui headshet yang terpasang di telingaku. Pagi itu rasanya begitu damai dengan alunan musik yang membawaku menuju kehangatan. 

Dengan segera, aku berjalan memasuki sekolahku, melewati gerbang besi yang sudah mulai karat termakan usia. Dan tiba-tiba......... "Eh,astaga kamu kalau jalan lihat-lihat dong, hampir saja kamu ketabrak." Itulah kalimat pertama yang kudengar dari mulut Alfaro. "Aduh maaf yah kak, tadi aku sedikit melamun.” kataku kepada Alvaro. ”Iyah lain kali kamu harus lebih berhati-hati.” kata Alvaro kepadaku. Dengan sedikit tergesa-gesa karena jantung yang hampir copot, aku segera beranjak ke dalam ruang kelasku melewati koridor sekolah yang sudah ramai. 


Baca juga: Akhir Malam


Selepas pulang Sekolah, seperti biasanya aku duduk di pos satpam dengan kondisi yang urak-urakan karena tak kuasa menahan teriknya matahari siang itu. Terasa seperti mimpi kulihat Alvaro berjalan menuju ke arahku sambil memegang helm di sebelah kanan tangannya. "Pulang sama siapa?" Tanya Alvaro padaku. "Belum tau ni kak.” Jawabku. "Aku anterin pulang yah!" “Memangnya tidak merepotkan yah, kak?” Kataku Kepada Alvaro. "Tidak kok, anggap saja ini permintaan maaf ku karena pagi tadi hampir menabrak kamu.” Katanya sambil menyerahkan helmnya untuk kupakai.

Aku yang tadinya terlihat urakan, kini kegirangan mengikuti Alvaro yang berjalan menuju parkiran sekolah untuk mengambil motornya. Dengan perasaan yang berbunga-bunga aku menaiki motornya dan langsung memeluknya agar tak jatuh ketika di jalan. Dan siang itu,kami keluar dari sekolahan melewati banyak siswa di sekolahku. Banyak mata yang tertuju pada kami, namun aku tidak memperdulikan itu.

Keringat mulai jatuh membasahi pipiku, aku kepanasan dan memang matahari siang ini sangat terik. Alvaro yang mungkin melihat ekspresi wajahku dari spion motornya, seketika langsung menepi ke pinggrir jalanan. "kita minum es buah dulu yah,kayaknya kamu kepanasan." Kata Alvaro kepadaku. “Boleh tuh kak.” Dengan segera,kami langsung membeli es buah yang dijajakan oleh seorang pria paruh baya yang berdiri di sudut jalanan itu. Aku dengan cepatnya melahap minuman itu. "Pelan-pelan nanti keselek",kata Alvaro. "Eh, iya maaf kak. Soalnya panas banget." Setelah selesai minum kami pu melanjutkan perjalanan.

"Eh kita belum kenalan nih." Kata Alvaro Padaku. “Nama aku Alana, kelas X Mia 3 kak” Jawabku. “Oh Alana, anak IPA juga yah. Pasti kamu pintar?” 

“Tapi nggak sepintar ka Alvaro” Yah, kak Alvaro memang terkenal di sekolah dengan kepintarannya. “Eh, ngomong-ngomong rumah kamu dimana?” Pertanyaan kak Alvaro menyadarkanku dari lamunanku, "Jalan melati,gang 10 kak.” Jawabku. “oh udah dekat ni,” Setibanya di depan rumah, terlihat ibuku yang sedang duduk di teras rumah sambil minum secangkir teh. Makasih yah kak udah nganterin aku pulang. Hati-hati di jalan ya.” 

Dengan segera aku berlari menuju rumah, mengucap salam pada ibuku dan segera berlari menuju kamar dengan wajah riang. Terlihat ibuku yang tampak kebingungan meilhat tingkahku. Aku terus membayangkan momen indah tadi. Rasanya seperti mimpi. Dan sejak saat itu, hubunganku dan Alvaro semakin dekat, bukan hanya karena kami satu sekolahan, tetapi Alvaro yang berusaha mendekati dan meminta nomor handphoneku kepada sahabatku.


Hingga pada suatu hari aku dan Alvaro kembali bertemu dalam suatu kegiatan yang diadakan oleh sekolahku. Alvaro adalah anggota OSIS di sekolahku dan aku dipilih sebagai perwakilan kelas untuk mengikuti kegiatan itu. “Eh,Alana kamu ikut kegiatan juga yah.” Kata Alvaro padaku. "Iyah kak, tapi aku baru pertama kalinya mengikuti kegiatan ini aku sedikit bingung.” Jawabku. “Kamu tenang saja, ada aku.” Sebuah jawaban yang membuatku tak mampu menahan senyuman kebahagiaanku.

Sebelum dimulainya kegiatan, kami semua berkumpul di lapangan sekolah. Bersiap untuk perjalanan menuju museum. Semua anggota menaiki bis bersama pembimbing. Satu persatu siswa masuk dan mengambil tempat dan aku memilih duduk di bagian pojok belakang. Tiba-tiba Alvaro masuk dan duduk tepat di sampingku. Rasanya jantungku hampir copot. “Aku duduk di samping kamu, bisa gak?”Tanya Alvaro. “Bisa, kak.” Sepanjang perjalanan entah mengapa aku merasa teramat nyaman duduk di sampingnya. Tanpa sadar sesekali aku menyandarkan kepalaku kepada bahu alvaro dan Alvaro sama sekali tidak marah atau kesal terhadapku. Sepertinya dia ingin selalu memberikan tempat ternyaman bagiku. Dalam hati aku sangat bersyukur dapat mengikuti kegiatan yang membuat hubunganku dan Alvaro semakin dapat. 

Kami pun tiba di museum dan melanjutkan kegiatan kami hari itu. Tepat pukul 15.00 kegiatan kami berakhir. Dan di bis aku kembali duduk di samping Alvaro. Selama perjalanan pulang aku tidur karena begitu lelah. Sejak saat itu pandanganku terhadap Alvaro berubah. Alvaro bukan lagi seorang cowok cuek, lebih tepatnya ia adalah seorang cowok romantis yang selalu memberi banyak perhatian. Hanya saja semua orang menganggap berbeda karena belum mengenalnya. 

Keesokan harinya di sekolahan ketika jam istirahat, aku duduk di ruang kelasku sambil memakan cemilan favoritku. Tiba-tiba dari arah jendela kulihat banyak teman-teman di sekolahan dengan cepatnya berlari kearah ruangan belakang sekolahku. Segera aku pun mengikuti mereka untuk menjawab rasa penasaranku. Ternyata Alvaro terlibat perkelahian dengan dengan Alex. Cowok yang berusaha mendekatiku, namun aku tidak pernah menghiraukannya. Aku tidak tahu masalahnya apa sampai mereka berkelahi namun aku in gin tidak ingin perkelahian itu terus berlanjut. Aku tidak ingin melihat Alvaro terluka. Dengan segera aku memegang tangan Alvaro daqn membawanya ke ruangan UKS. Kuambil kotak P3k lalu mengobati wajah Alvaro. 


“Awww, pelan-pelann dong ngobatinnya, sakit ni.” Kata Alvaro kepadaku.”Kenapa sih harus berantem? Kalau ada masalah kan bisa diomongin baik-baik, gak harus berantem.” Kataku dengan sedikit kesal. “Dia yang mulai duluan Alana, aku hanya berusaha untuk membela diri. Dia mengancamku agar tidak mendekati kamu lagi.” Astaga, ternyata itu penyebabnya. “Aku gak ada hubungan apa-apa sam dia, kak. Jadi gak usah hiraukan perkataannya yang gak masuk akal.” Kataku pada Alvaro sambil tersenyum. “Makasih yah udah ngobatin aku.” Kata Alvaro.

***

Malam itu selesai belajarku, terdengar motif yang masuk di handphoneku. Ternyata ada chat masuk dari Alvaro, mengajakku untuk bertemu di rooftop sekolah saat jam bel istirahat besok. Aku merasa terkejut dan mulai bertanya-tanya mengapa Alvaro mengajakku untuk bertemu. Apakah dia menyukaiku dan hendak menyatakan cinta padaku? 

Keesokan harinya di sekolah saat jam istirahat, semua siswa terlihat memiliki kesibukan sekolahku masing-masing. Aku Segera berjalan menaiki anak tangga agar dapat mencapai rooftop. Ketika aku menginjakan kaki terlihat secarik kertas warna-warni yang dihiasi dengantulisan yang indah, yang bertuliskannn.

“Disini, di tempat ini hanya ada aku dan kamu. Aku menganggapmu sebagai wanita terbaik dalam hidupku. Aku ingin mengungkapkan sebuah rasa yang mungkin bermetamorfosis seperti kupu-kupu, membutuhkan penantian panjang agar semua tampak lebih indah.. Aku mencintaimu, mencintaimu sampai hari hujan menjadi cerah, sampai salju terakhir, sampai raga tak lagi diberi hak untuk berada di bumi. Terimakasih selalu ada dan membuatku merasa ada. Aku mencintaimu dengan sangat.___ Bumi 2015,Alvaro Bagaskara Putra”.

Selesaiku membaca surat itu, setetes air mata jatuh dan membasahi pipiku. Aku tak kuasa menahan tangis. Ini kali pertama aku menyadari bahwa aku dicintai seorang dengan teramat dalam. Dan terlihat dari balik gedung itu, seorang cowok berdiri di hadapanku. Dia adalah Alvaro. Ia berjalan menuju ke arahku. “Kamu mau kan jadi pacarku?” Sejenak aku terdiam dan terpaku. Namun dengan cepat aku kembali tersadar dan menjawabnya tanpa sedikit pun keraguan, “Iya, aku mau jadi pacar kamu.” Hari ini terasa begitu indah. “Makasih yah udah mau nerima aku. Aku janji akan selalu menjaga kamu.” kata Alvaro kepadaku sambil memasangkan sebuah kalung berlambang bintang di leherku.

"Kalung ini berbentuk bintang dan aku ingin kamu selalu menjadi bintang dihatiku yang selalu menerangi tiap malamku.” 

Hari itu, 28 September 2015, aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia. Aku merasa beruntung karena dicintai seseoran dengan begitu tulus. Tepat hari itu aku pertama kalinya berpacaran dan langit dia adalah cinta pertamaku dan pacar pertamaku.

Setelah hari itu, aku dan Alvaro kemudian menjali kisah bersama. Menjadikan setiap hari di sekolah sebagai kenangan indah yang akan tetap ada. Dua tahun lamanya kami menjalin hubungan dan Alvaro tetap menjadi sosok pria yang pertama kali aku kenal. Alvaro adalah satu-satunya orang yang selalu bersamaku, menemaniku untuk menjalani hariku yang tak selamanya indah. Dia selalu menjadi orang pertama yang ada saat aku sedih. Dimana pun dan kapan pun aku membutuhkannya dia selalu ada.

Setelah dua tahun lamanya, Alvaro harus pergi dari sisiku Rasanya berat untuk merelakan. Dia sudah tamat SMA dan akan melanjutkan kuliahnya di Australia. Aku sangat menyayangkan karena pada akhirnya aku dan Alvaro harus berpisah, Dan ia memilih untuk memutuskan hubungan kami, melupakan semua kenangan bersama dan kemudian pergi memulai kehidupannya yang baru. Jujur aku sangat kecewa dan begitu rapuh atas kepergian Alvaro, tetapi mungkin itu adalah keputusan yang terbaik untuk kami berdua. Semua mungkin hanya perkara merelakan dan aku hanya perlu berusaha untuk meyankinkan diri bahwa pertemuan dan perpisahan kami adalah bagian dari cerita hidupku. Aku tak pernah menyesali semuanya, 

Masa SMA adalah masa terbaik dalam hidupku. Aku bahagia bisa bertemu dengan Alvaro, meski kini aku kembali menjalani hariku sendiri tanpanya. Selalu ditemani kesepian yang tak kunjung usai. Semua kenangan kami di masa SMA mungkin akan selamanya terkenang oleh semesta dan sekolahku akan tetap menjadi saksi bisu atas segala kisah kami. Tentang pertemuan yang telah memberi banyak kenangan. 

Dia selalu menjadi sosok yang kucintai. Meski dia meninggalkanku dalam luka dan kesepian yang tak berujung, namun aku tak pernah membencinya. Dia pernah menghiasi hari-hariku dengan kebahagiaan. Dia menunjukan padaku apa itu bahagia dan apa itu cinta. Aku kan terus mengenangnya dan berharap suatu saat dia akan kembali padaku dan melanjutkan kisah kami yang sempat terhenti.


_Selesai_


_______________________________


Ayunita Florencita D Kuky, Siswi SMK Jhon Paul Maumere.


Selasa, 12 Oktober 2021

Bukan Mereka, Tapi dia

Bukan Mereka, Tapi dia

https://cdn.pixabay.com/photo/2017/09/08/19/42/drawing-2729885_960_720.jpg

Sore hari di kota Ruteng, dinginnya udara kembali menyusup. Di kedai kopi milik tuan Er ini aku bertandang, menepi dari segala hiruk pikuk dunia yang menyeruak. Lonceng gereja terus bergema, membuyarkan lamunanku ditengah keheningan.  

"Len, tidakkah kau mencoba untuk kembali bermain di labirin kasih yang pernah kau ciptakan dulu", ujar tuan Er. Sambil menyesap seduhan kopi yang terhidang di meja bundar aku pun berkata, " Er, rasanya aku sudah cukup lelah memainkan labirin itu. Kurasa kau tahu akan hal itu. Er  ketahuilah akan suatu hal,  aku sudah usai bermain api sejak dia tiada. Mereka yang tahu akan aku dan segala kekelamanku meninggalkanku begitu saja." Hening, itu yang kurasa saat ini. Suara dari tuan Er membuyarkan lamunan ku sesaat, " lalu tidakkah kau menyisakan sedikit ruang kudusmu untuk mereka yang masih ada untukmu?". Sesaat, senyumku merekah sambil kukatakan kepadanya " Er, orang itu ada bahkan sejak hari dimana aku melihat semesta. Kau tahu siapa orang itu? Dia adalah abah. 

Baca juag: Mimpi-mimpi mama...

Orang yang tak pernah meninggalkanku meskipun dia tahu bahwa aku begitu hina dimata banyak orang tapi mulia dimatanya. Saat semua menjauh karna kejatuhanku, abah selalu disisi. Dia meracau bahkan marah lalu berkata kasar tetapi ketahuilah Er, dia tak pernah meninggalkanku sampai detik ini". Er mulai takjub akan segala pengakuanku, " apakah kepada dia hatimu terpaut?" Jawabku kepadanya, "Er, sepertinya  perkataanku sudah jelas. Dia penambat rasa di kalbu ini. Bukan mereka tapi dia. Mungkin ini terdengar sangat konyol tapi sungguh aku menyayanginya. Ya dia abah, ayahandaku." Er mulai terdiam. Dan suasana di kedai kopi pun kembali tenang seperti sedia kala.

----------------------------------------

Penulis

Maria Makdalena, mahasiswi psikologi di Unipa Maumere. Gemar membaca dan menulis karya sastra fiksi.