Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 April 2022

𝐏AK 𝐆𝐎-𝐉𝐄𝐊|| Elje Story

𝐏AK 𝐆𝐎-𝐉𝐄𝐊|| Elje Story

Gambar: Pixabay.com

Jam Kerja

Ada yang berjalan tertunduk, tertekan beban pikiran

Pesan-pesan berjejal menuntut kepastian

Dari jiwa yang bergentayangan di beranda layar gawai

Tanya yang menuntut jawaban pasti

Klarifikasi stok kosong -- permintaan maaf barang terkirim tidak sesuai pesanan


Di pojok lainnya

Kesibukan tak memberi jeda untuk syukur

Ditikam rasa penat; hidup bak sepuluh angka kalkulator menuntut benar

Untuk selalu tunduk dan pasrah dengan regulasi pemilik upah


Namun ada yang merasa biasa

Laku penuh liku seperti usus!

Ulur waktu kerja dengan sengaja!

Bercakap tidak penting, malas-malasan dengan riang -- sesekali buang kencing hingga jam pulang datang: sampai tiba tanggal upah kerja.


Surabaya, April 2022


𝐉𝐚𝐦 𝐄𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐒𝐨𝐫𝐞


Hujan membasi tubuh-tubuh telanjang jalan legam

Angin berayun ke sana ke mari memberi ragu

"Sekejapkah rintik ini?"

Bak bayangan masa senang remaja yang lekas berlalu?


Aku rindu rintik yang jatuh bersamamu

Irama tetesan air pecah; mencumbu Helm Bogo kesayanganmu

Pudarkan dingin dengan ceria gelak tawa


Air coklat selokan menggenang jalan mengalir ke selatan

Hanyutkan perahu kertas yang kita lindas


Aku rindu kopi hitam di meja marmer sebagai tamu

Diiringi gerimis jam empat sore

Bincang hangat akan harapan, mimpi dan masa lalu

Dalam sepetak ruang yang akan selalu terkenang; bersamamu.


Sukolilo, 4 April 2022

𝐒𝐢 𝐈𝐣𝐨


Dahulu dia menetas tidak sendiri

Banyak kehidupan dalam lingkaran hidupnya

Saudara satu induk dan penangkaran; tumbuh dalam hangat kebersamaan


Si ijo kini sendiri

Kehidupannya kecil namun bernilai

Hidup yang tidak beruntung; dijalani dengan berani

Terbatas satu petak untuk gerak; rangsang semangat juang hidup


Tempurungnya kuat, namun kalah keras dengan kenyataan

Tempat aman sembunyi dan resapkan air mata; kala sedih mendera harinya

Hanya kenangan yang kambali

Bukan segala hal yang telah pergi.


Sukolilo 5 April 2022


𝐏𝐚𝐤 𝐆𝐎-𝐉𝐄𝐊


Harinya penuh dengan notifikasi

Nama-nama yang tak pernah dia kenal disapa dengan penuh keramahan

Kerutan wajah meski terhalang masker aku tahu, itu senyuman!


Mitra kerja yang tak perlu aku ragukan cakap kerjanya

Terkadang harinya dihadang lebat hujan

Dipanggang dengan terik; disiram deras keringat dan segala cerita memilukan


Jalan yang penuh bahaya dan celaka

Tak gentarkan hati untuk terus berusaha

Sepenggal doa kuatkan hati hidupi keluarga

Bukan orkestrasi untuk eksis dalam dunia maya

Mencari sesuap nasi bukan legitimasi

Hingga pulang larut malam; sekedar pungut peluang di padang yang gersang.


Bogorami, 6 April 2022


𝐏𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚


Perhatikan langkah kaki yang pergi terburu-buru

Beranjak dari hari masih gelap -- merebah dengan lelah pada malam yang lingsir


Terik yang menyengat tidak sakiti tubuhnya

Karena setiap inci kulitnya telah lembab oleh keringat


Sedapat-dapatnya dia jemput pagi dengan nyanyian Mazmur

Semampu-mampunya akhiri hari dengan ucapan syukur.


Bogorami, 7 April 2022

__________________________________________

Biodata



Elje Story. Laki-laki kelahiran Blitar 30 tahun silam, menulis sejak 2015. Sekarang Elje, tinggal di Kota Surabaya Jawa Timur. Kesibukannya sehari-hari sebagai karyawan Genesis Camera tidak menyurutkannya belajar dunia literasi khususnya menulis puisi. Setelah bukunya yang berjudul Sang Lelaki, Wanita & Musim Ketiga, ia sedang mempersiapkan buku puisi tunggalnya yang ke-2. Juara 6 lomba sastra Anugerah COMPETER Indonesia 2022. Aktif bergiat Komunitas Sastra KEPUL dan COMPETER E-mail: storyelje@gmail.com IG:@elje_story, FB: Elje

Sabtu, 26 Februari 2022

PERSINGGAHAN || NUR INDAH SUTRIYAH

PERSINGGAHAN || NUR INDAH SUTRIYAH

Gambar dari pixabay.com


Kenangan di Sepertiga Januari


/1/
Kita adalah dua bola mata kelimpungan
Menengok ke kiri dan ke kanan
Meloncat-loncat tanpa tujuan
Mengugurkan sepi dalam kandungan

/2/
Katamu, aku bagian dari pelangi
Mewarna membentuk guratan diksi
Yang kemudian menjelma menjadi puisi
Pada asturo di lanskap mimpi

/3/
Marilah kita nikmati musim ini
Menenggelam masa lalu di ufuk puratan
Dengan secangkir madu merah di atas gelas melamin
Meneguknya perlahan-lahan

/4/
Kita akan sampai pada sebuah rotasi
Perputaran globe beralih hati
Yang tak henti mengguncang nadi
Dan segala kisah tersusun rapi

/5/
Sampai di penghujung Januari
Aksara menggema namamu
Di bawah kalender nanar
Aku mengumumkan namamu


Pasuruan, 20 Januari 2022




Persinggahan

Gubukku memang lusuh
Jika kau merengkuh keruh
Pergilah ke gubuk nomor sepuluh
Disana bakal kau temui secangkir madu 
Rasanya manis dan legit
Membawamu terbang membiru 
Menggeliat-geliat bersiul merdu

Aku menyerumu, bukan mengusirmu
Aku lelah, bukan pasrah
Lelah akan rayuan
Berkedok kepalsuan
Yang mengintimidasi perasaan

Kau suguhkan cinta
Namun kau ukir nestapa
Kau sodorkan rindu
Namun melukis sembilu
Kau tawarkan segugus janji
Namun hanya sensasi

Malam merenggut, lalu tertidur
Terbangun dari mimpi
Ternyata bongol sudah memenuhi
Mengiyakan jika kehangatan kembali meludahi

Aku lupa, kalau aku hanya sementara
Tempat singgah di kala merana
Dan segalanya mengendap gemerata


Pasuruan, 12 Februari 2022

______________________________________________________
BIODATA

Nur Inda Sutriya, yang mempunyai nama artis "Indah" 
adalah perempuan yang terlahir di Pasuruan. 
Menyukai puisi dan berjiwa pebisnis sejati. 
IG nurindahsutriyah.
KERINDUAN || ELJE STORY

KERINDUAN || ELJE STORY

Gambar dari pixabay.com










Energi Hidup


Sesungguhnya, orang itu hamil dengan kejahatan, ia mengandung kelaliman dan melahirkan dusta, Mazmur 7:15


Termenung,
diam,
terdekap pusaran waktu

Petani duka telah lelah; terbius berat pikir untuk menjaring mangsa
Onak duri ialah keindahan kebunnya
Dukacita dan putus harap adalah hasil tetap ladangnya!

Benih harapan palsu telah bertunas
Di sana sumber dari segala macam petuah dusta dan segala jurus silat lidah!
Kita akan mampu berdalih dan mencari celah untuk tak salah
Mahir dalam membual dan merajam kata ℎ
𝑜𝑎𝑥 di setiap beranda sosial media!
Ilmu yang mampu jadikan kita nitizen yang maha esa

Jangan ragu untuk datang ke ladang itu!
Ada banyak ilmu gelap yang mampu dijadikan pedoman hidup kisanak!
Keberadilan,
kemanusiaan,
keberadaban telah terjerat dengan siasat sesat di sana!

Tak usah risaukan hari esok,
nikmati yang ada hari ini; esok hari punya cerita susahnya sendiri bukan?

Hahaha
Mari rayakan ini Kisanak!
Cermin diri yang rapuh oleh asal yang cemar!
Candulah semua nikmat sesat ini!

Nikmati temponya,
jika bersalah tinggal minta maaf saja; klarifikasi!
Sudah jamaknya main kata musim ini
Jangan masukan hati; semua akan reda sekejap mata!

Jangan biarkan sesal cemari pikir dan akalmu; karena setelah ke kebun itu nuranimu telah mati
Tak ada lagi harapan baik!

Jangan minta lagi untuk kembali; nikmati saja apa yang kusuguhkan!
Kamu taksadar telah menari dalam tanganku kisanak!
Jangan tanyakan mengapa tiba-tiba ada lara; karena hidupmu adalah energi hidupku!

Surabaya, 12 Februari 2022


Merayakan Kasih yang Tak Sayang

Jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diinginkannya. Kidung Agung 2:7b

Sore telah bersolek dengan kilau senja
Gegap-gempita ributkan
𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡𝑖𝑛𝑒 seantero semesta
Stiker, kata rayu dan segala pernak-pernik kasih, hiasi seluruh media masa; atas nama hasrat berlebel cinta

Memikat lawan jenis dengan ikatan bunga atau sebongkah coklat dan boneka!
Ada yang meminta kata mewah dan bernilai harga!
Demi apa?
Untuk apa?

Mencoba menjarah cinta dengan segala itikad busuk!
Dari kilau barang berharga; rapal mantra mimpi pematok ular?

Apakah hasratmu akan puas dalam dekapnya?
Apakah pencarianmu berakhir dengan rengkuh harum tubuh itu?

Tidak ada yang terbakar dalam bara; tidak ada celaka tanpa sebab!
Telah kau ketuk pintu bencana dalam hidupmu!
Nikmati petaka dan terik api cemburu
Racun dari buah tingkah langkahmu; hasil dobrak paksa cinta sebelum waktunya!

Surabaya, 14 Februari 2022


Kerinduan



/1/
Kala itu tumbuh di bawah gunung
Terpeluk hutan lindung
Diasuh telaga; gembira bersama di urat-urat kekar karet bolu usia berabad
Berayun dengan sulur-sulur bak Tarzan dengan teriakan khasnya; "Auo...!"
Tubuh-tubuh kita jatuh dalam perangkap segar air telaga
Berenang dalam rimbun enceng gondok
Sesekali ular melintas untuk pentas, tunjukkan eksis di ekosistemnya; sudahi ceria, terganti panik usir laju arah liuknya.

/2/
Ombak pantai,
pekik camar,
pecahan buih pada karang,
pasir putih,
kepingan batu warna-warni,
adalah kerinduan kala itu.

/3/
Takdir paksa memberi jarak kita; ikhlas saja tak cukup tutup sendu kehilanganmu!
Bayang dan ingatan kubunuh berulang dengan kesibukan!
Kupukul dan tendang dengan segala hal senang; namun kenang selalu datang dalam malam yang tenang!

Mengendap menunggu untuk tetap ingat;
memberi makan kepiting sawah,
mengambil singkong, salak, rambutan tetangga tanpa restu tentunya,
bermain dalam ceruk karet bolu,
sampai kepada tawa yang cukup saling menatap mata.

Relung dan sanubari ada bahagia masa kecil kita; harapanku untuk dapat bersua sebelum tubuh kita menua.

Bogorami, 17 Februari 2022

 ______________________________________

 Biodata

Elje Story. Laki-laki kelahiran Blitar 30 tahun silam, menulis sejak 2015. Sekarang Elje, tinggal di Kota Surabaya Jawa Timur. Kesibukannya sehari-hari sebagai karyawan Genesis Camera tidak menyurutkannya belajar dunia literasi khususnya menulis puisi. Setelah bukunya yang berjudul Sang Lelaki, Wanita & Musim Ketiga, ia sedang mempersiapkan buku puisi tunggalnya yang ke-2. Juara 6 lomba sastra Anugerah COMPETER Indonesia 2022. Aktif bergiat Komunitas Sastra KEPUL dan COMPETER E-mail: storyelje@gmail.com IG:@elje_story, FB: Elje WA: 087.854.313.616.

Minggu, 13 Februari 2022

MENERBITKAN POSTINGAN SEBELUM TIDUR || SANDRO SOGEMAKING

MENERBITKAN POSTINGAN SEBELUM TIDUR || SANDRO SOGEMAKING

Gambar: Pixabay.com

 

MABUK

Maka ketahuilah, penyair cukup kesulitan mengenali puisinya. Barangkali juga sebaliknya. 

Seperti buta nada. Kata-kata tidak lagi punya irama. Berirama. Tapi dia datang kepadamu masih bersama-sama. Mirip kumpulan masa.

Karena hari ini, kita bisa menyenangkan dan menyakitkan sekaligus. Kata si bandar. Dia duduk di sebelah saya. Kebetulan saya orang pertama yang menerima segelas sopi dari tangannya.

Dan begitulah kata-kata ini datang kepadamu. Mirip kumpulan masa. Unjuk rasa?. Terserah sesuai apa adanya menurutmu. Ha,ha,ha.

2021

MEMBUAT PERTANYAAN

: Diri sendiri

Pintu kamar terbuka. Cermin meretakkan dirinya-berserak. Jendela yang kesulitan menutup. Selop kunci berkali-kali hilang. Angin yang entah, datang ke arah tubuh dan baju lengan panjang yang tiga hari belum pernah saya lepaskan. Saya sendiri yang menjuntai ke lantai. Matahari pergi dan gelap kembali. Denting jam berbicara dalam kepala. Jam enam sore. Dan tiba-tiba saya berkata-kata kepada sesuatu. Mungkin tuhan. Mungkin setan; tentang kekacauan lebih dulu ada, mengenal tiap orang lebih dekat dari yang diduga, apakah saya salah satu yang lahir dari kacau itu, seperti ada sepasang lengan yang belum mengenalkan dirinya dan menyusun saya dengan perihal-perihal berantakan di pikirannya?

Lenggang begitu lama, begitu dalam.

2021

MENERBITKAN POSTINGAN SEBELUM TIDUR

Saya letakkan suatu yang sebut saja itu gelisah, di sebuah blog. Di dalamnya ada kata-kata yang membilang akhir tapi belum selesai. Kata-kata ini pernah dihapus berulang. Membiarkan kursor jadi bentuk paling sibuk di depan mata saya. Misal dengkur yang panjang, mata yang kuat terbuka di dini hari, kopi yang tidak lagi ampuh, berita yang itu-itu saja, ponsel yang selalu satu inci lebih dekat ke arah saya, dan sesekali mendoakan agar mimpi indah adalah kenyataan di besok pagi.

Dan saya menghapus lagi semuanya. Setelah beberapa pertimbangan, setiap postingan sendiri memiliki kosakata asing yang tiap kali tidak menolong saya untuk tertidur dengan semestinya.

Maka saya biarkan layar putih semula ditambah kursor dengan keganjilan sendirinya. Sebuah kacau yang sedari dulu perlu disabda.

Dan entahlah. Saya mulai ketagihan menerbitkan postingan itu setiap hari.

2021

KIAMAT

Populasi jomblo berkembang pesat di seluruh dunia. Menghilangkan hari-hari kencan dan jadwal pernikahan. Kesepian akan jatuh seperti credo dan abadi di tiap-tiap kening. Kelak jika sudah digenapkan, kita adalah sejarah yang menciptakan halaman per halaman dari kitab suci.

Dan diprediksi tidak ada lagi masa depan.

2021

CUACA

Dia membiarkan dirinya dicebur ke dalam saya, ke dalam orang-orang lain, ke dalam segala benda yang sadar telah dimasuki.

Seperti takdir. Seperti ramalan ke arah akhir.

Dan untuk alasan pribadi, perkara ini cepat menguap dan memberat pada Kepala; ada rupa-rupa bahasa dan binasa.

Seperti peristiwa yang buru-buru jadi berita. Seperti paragraf yang tidak bisa semuanya dicantumkan nama-nama.

Banjir, hujan lebat, badai tropis, kemarau panjang, bintang jatuh, pesawat jatuh, pulang matahari, datang bulan. Bahkan terutama, susah sinyal.

Dan tuhan, apa kau juga ikut dicebur?

2021

BEBAS

Pertanyaannya: kapan?

Kadang- dikatakan yang lain dari suatu waktu-ada benarnya juga

Manusia jadi sakit karena semata tanda tanya.

2021

_______________________________________

Biodata

Sandro Sogemaking berasal dari Flores Timur dan kini sedang mengenyam pendidikan di Unwira Kupang.

JALAN PULANG || RUSTY ARNII

JALAN PULANG || RUSTY ARNII

Gambar: Pixabay.com

Sajak Pagi 


Pada pendar cahaya 
kasih menyapa 
menyelusup kisi-kisi jendela 
menitipkan rasa 

Seiring embun luruh
dari pucuk-pucuk daun
sendu dan lembut 
membisikkan rindu 

Pada hati yang terjaga 
diam-diam tersenyum 
di sela rangkaian hari 
yang serasi terangkum 

Ajarkan syukur 
tafakur atas cinta semesta 
selaras hening dan damai 
yang disampaikannya 


Gk, 22 Januari 2022


JALAN PULANG

kutapaki beranda masjid tua 
rindu merasuk relung-relung jiwa
sekian lama hati terlena
oleh rupa-rupa dunia 

begitu jauh waktu kutempuh 
terhempas dan jatuh 
di belantara ilusi tanpa henti 
terhilang arah diri 

di pelataran sepi 
rumah-Mu nan suci 
kuletakkan segala sesal
berharap secercah ampunan

di mana tangan-tangan cinta 
dengan setia 
menuntun batin gamang 
kembali temukan jalan pulang 


Gk 27 Januari 2022


SENYUM DI MALAM NATAL


Seulas senyum kembali 
terlintas dalam ingatan mimpi-mimpi 
malam natal nan suci 
senandung merdu menemani 

Dia yang datang 
seiring lagu jinggle beli berdentang 
menyibak hening  
di langit gemerlapan

Sekeping hati terjaga 
dalam luka dan hampa 
memeluk cerita tentang domba dan anak gembala 
sebagai penerang dalam jiwa 

Dia yang goreskan harapan 
di lembar-lembar kerinduan 
bukanlah kenangan 
kisahnya menjelma sebanyak doa dalam tiap-tiap debaran 


Gunungkidul, 27 Januari 2022


______________________________________________
Bodata: 
Penulis

Rusti suwarni. Kelahiran Wonosari, Gunung kidul /Yogyakarta. Berproses dan belajar di KEPUL (Kelas Puisi Alit) yang diasuh oleh penyair Mohammad Iskandar Demak.  Hoby baca dan dengar musik. No wa 085729545674.

Sabtu, 05 Februari 2022

SURGA TERAKHIR || RAHAJENG

SURGA TERAKHIR || RAHAJENG

Gambar: Pixabay.com


Sekedar Singgah 


Duduk menunduk pilu

Terhanyut dalam lamunan temaram

Lalu perlahan menepi 

Di ruang waktu

Hingga menjadi ringkih 

Dan berpamit pulang


Probolinggo, 02 Februari 2022


Surga Terakhir

Membelai embun di pagi hari

Berkelamut lembut

Di pangkal daun hijau

Memberi sentuhan kalbu

Yang tak henti meraung 


Lumuran dosa bercampur pilu

Menjadi satu dalam peti nestapa

Suara gemuruh merebak lautan hati

Menyeru ayat-ayat suci

Merasuk dalam jasad yang masih bernyawa


Dan temaram sunyi menghiasi dinding

Persinggahan para pendoa

Dengan uluran tangan melangitkan

Sejuta harapan

Hingga tetesan darah terakhir

Menjadi abadi dalam semesta


Dialah surga yang terakhir


Probolinggo, 02 Februari 2022


Tanda Tanya

Bercengkrama liar

Di bilik birai hening

Seorang diri

Tanpa berkawan


Lintah adalah aku

Membawa tanda yang tersaji 

Untuk semesta

Sebagai suara hati

Yang bertalu tanya

Meriuh di dalam rimba kehidupan

Masih mencari daratan

Dimana ku terlahir

Hingga kelak ku berpamit


Probolinggo, 02 Februari 2022

_____________________________________________________

Biodata

Rahajeng lahir di Probolinggo, 12 April 1989. Dia mengikuti Kelas Puisi Alit,  kelas belajar puisi di Asqa Imagination School dan bergabung di Comunity Pena Terbang (COMPETER)  dari tahun 2020 hingga saat ini. Dia pun pernah mendapatkan anugerah menjadi pemenang juara 2 dan 3 Asqa Book Award. Bisa dihubungi lewat melalui IG: @rah.ajeng12.

Jumat, 28 Januari 2022

KEMARAU DI DADAMU  || DUWI PANGESTU

KEMARAU DI DADAMU || DUWI PANGESTU

 

Gambar:Pixabay.com

Duri dalam Bayang Semu

oleh: Daun Telinga Dwipa


Hai bunga-bunga taman

Berlagu bermain kupu-kupu

Sudah berapa lama kita berteman

Tiada rasa tumbuh cinta

 

Menjagamu dari kewarasan

Adalah diksi paling panjang

Tertawa tiap inci hari

Bayangmu nyaman mengungsi

 

Ada yang mengganjal

Tumbuh rerumputan

Antara ilalang senja kita tunaikan

Merusak kabar terang

 

Pagar makan tanaman

Kiranya kita dimulakan

Cemburu dalam lamunan

Pemicu kau dengannya

 

Batin tersiksa

Bersama menjelma duri aku telaah

Entah duka atau cinta

Maafkan aku duhai Dinda

 

 Seulawah 23 Januari 2022

 

Kemarau di Dadamu

Oleh: Wajah Kata

 Daun-daun gugur di keningmu

Kemarau melanda kita kerontang

Atas dasar apa diam-diam kau tebar

Canggung menggerogoti

Agaknya aku tahu

Mengapa bibirmu gemetar tiap berkabar

Tangan menggigil menggenggam bugenvil

Merakit mahkota sederhana

Tersemat di lingkup kepalaku

Tanda kasih karib tak kan raib

Namun kau selipkan cinta

Di sela-sela dadamu

 

Hatimu cedera

Kau ketuk rasa, tapi aku?

Adalah musim menerbangkan ranting

Mematahkan jiwamu kering

Kau paksa jarak tersirat

Seakan meramu perpisahan

Kusuguhkan secangkir luka di matamu merona

Aku takut

Kepulannya merutuki tiap gerikmu

Karena aku semenjana

Untuk seutas duka

 

Gresik, 22 Januari 2022


Patah Ranting di Cermin Usia

Oleh: Daun Telinga Dwipa

 

Maafkan cinta yang semalam tinggal

Sebab rasa terus menggema

Memenuhi langit-langit dada

Segala muncul tiba-tiba

 

Patah ranting cemara

Jatuh di atasku merana

Retak cermin seribu usia

Persahabatan rusak karena asmara

 

Jangan merasa bersalah

Akan kubunuh rasa dengan air mata

Tiada perpisahan antara kita

Kembalilah semenjana

 

Maafkanlah,

Hati ini mungkin cedera

Tiada rela berpisah

Usailah segalanya

 

Seulawah, 23 Januari 2022

_________________________________________________

Biodata


Duwi Pangestu. Kelahiran Saree, 13 Juni 2001.Seorang Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Ar-Raniry Banda Aceh. Alumni kelas puisi online batch 30 yang dimentori oleh Muhammad Asqalanie eNeSTe. Dapat dihubungi via WA: 082397542161 atau IG: mh_duwi_1518
SAKSI DUKA SEMERU || NI WAYAN KRISTINA

SAKSI DUKA SEMERU || NI WAYAN KRISTINA

Gambar: Pixabay.com

Saksi Duka Semeru

                         Dentum terdengar menghunjam telinga

              Seorang perempuan berlari tunggang-langgang

      burungburung mengudara hendak tuntun langkah

 Awan pekat kerubung rumahrumah

Ia gapai tubuh mungil di ranjang bambu

    Matanya pandang ke belakang, langkah terseok-seok ke depan

          Mengalun gema takbir dari bibir yang semakin pucat

                   Gemuruh serta teriakan penghuni

                          tak mampu menyibak tirai abu pekat, butakan

                                  mata kaki, mata hati. Amuk lahar semakin gila

                                       Ia berteriak pada sekawanan burung

Sesekali tatap buah hati di degup kencang dada

                                       yang tertawa melihat panik wajah ibunya

                                    Perempuan itu masih berlari sembari rapal takbir,

       Namun langkahnya kalah oleh kencang kakikaki lahar

                           Tubuhnya dicekam suasana, ia nampak berserah, berhenti melangkah

                   tak ubahnya burung tak bersayap, pasrah dekap buah rahim

             seketika tubuhnya lebur diguyur lahar di tanah tak berpijar

     Ruhnya telah mengangkasa dijemput Yang Maha Kuasa, berkuasa atas segala.

 

Bali, 08 Desember 2021

______________________________________________

BIODATA

Ni Wayan Kristina,kelahiran Pupuan 01 Februari 1991. Nama penanya Rambut Kristinta. Beberapa karya antologinya yang telah terbit yaitu Antologi Puisi Tinta Pelangi Cinta, Cerpen Bahasa Bali Semprong Puun, Dongeng Rimba Cerita bersama Made Taro, Antologi Puisi Pijar Sebuah Ruang, Bung Hatta, dan Manuskrip Bintoro. Selain itu, puisinya masuk dalam peserta 4 karya teruji oleh sutera.id (2021) dalam antologi yang berjudul eksploit organ dalam. Karyanya termuat di beberapa media online seperti Media Bali, Competer Indonesia, Dermagasastra, Riau Sastra, Tajdid.id, Buletin Kapas, Ngewiyak.com dan TirasTimes. Ia merupakan Juara 1 Lomba Cipta Puisi AIS (Agustus-September 2021) dan Peraih Anugerah COMPETER Indonesia 2022. Belajar di Asqa Imagination School (AIS) dan tergabung dalam grup kepenulisan Competer Indonesia, KEPUL dan Komunitas Kembang Rampai-Bali. IG: @pucekristina, WA: 082236407208

Sabtu, 22 Januari 2022

SERUNI BERKUBANG DUKA || Nur Indah Sutriyah

SERUNI BERKUBANG DUKA || Nur Indah Sutriyah

Gambar: Pixabay.com
 

Seruni Berkubang Duka



1. 
Sekuntum seruni tergolek layu
Di taman sepuh berdinding putih kelabu
Tersuntik bius tertindih pilu
Tangis hujan tumpah menggeliat merdu

2.
Hari suram tak bermakna
Melihat sang Dama merapah nestapa
Dua dari sebongkah jiwa
Terkubur kubangan lara

3.
Terik matahari bersembunyi di balik embun
Menanti siang yang tak mungkin muncul
Aku bersimpuh di ujung masygul
Menanti kampaan duka yang asyik bersiul

Pasuruan, 24 Desember 2021





Bayangan Kecupan Aksara


Hari itu, kau titipkan rangkaian kata layaknya sujana
Sebelum terpahat oleh citraleka
Bertafakur rasa bagai tirta amarta
Harap pesona kirana jatuh di ujung senja

Namun, layung langkah terpendam kelabu
Rimpuh rindu terseyok pilu
Berhari-hari, bermalu-malu
Hanya tergelantung pada afsun lakonmu

Aku pun terdiam dalam iringan sembilu
Menumpuk kertas menjadi rangkaian pilau di setiap hulu
Belum cukupkah yang aku laku?
Hingga kau hempas balabari dengan letupan anggara
Tepat pada angan yang tersesat dalam jenggala

Rasa daksa kiyut tak sempurna
Manakala anginmu tak sampai di telinga
Setidaknya bisikkan aku dengan kecupan aksara
Walau hanya dalam bayang kaca

Pasuruan, 19 April 2021



Meramu Rindu

Malam menggenggam wajahmu
Berjalan melintas di pelataran mimpi
Hembusan angin berbisik lirih
Akankah jasad kita kembali meramu?
Menjadi obat di kala rindu

Jika esok hari tikas parasmu semu
Dengan siapa kembali menyeduh riuh
Jika bayangmu tersedak oleh waktu

Dengan siapa menyuguhkan telaga kasih
Serak karena dahaga cinta
Menggulung rasa di genangan nestapa
Pilu menggebu menganak sendu


Pasuruan, 17 Januari 2022

____________________________________________________
Biodata:

Nur Indah Sutriyah, perempuan yang dilahirkan di Kota Pasuruan pada tanggal 08 Nopember 1992.
Mempunyai kepribadian sosial tinggi. Sehingga setiap harinya, ia mentransfer wawasan kepada anak-anak yang membutuhkan bimbingan. Selain itu, ia juga membantu memfasilitasi para pejuang online.
Mempunyai hobi menulis. Terutama puisi. Mulai menekuni Puisi di tahun 2020. Hingga di tahun 2021, ia memperdalam wawasannya dengan mengikuti kelas online puisi KPO dibawah bimbingan Muhammad Asqalani Eneste, Mentor dan sekaligus Pendiri KOMPETER INDONESIA.
Saat ini, ia tergabung dengan Komunitas KOMPETER INDONESIA.



SHAKILLA MERINDU KUMBANG || Rahajeng

SHAKILLA MERINDU KUMBANG || Rahajeng

Gambar: Pixabay.com


Liar, Liur, dan Lirih

Masih lelap dalam tidur malam

Setelah semalam bermain api

Di gundukan tanah merah

Beralas tikar bambu


Seorang gadis tersenyum sinis

Menggenggam jemari 

Membancang sumarah

Bergeming dalam batinnya


Berlari terbirit mengejar waktu

Sebelum matahari membungkam awan

Begitu haru merasakan getaran sukmamu

Yang terkadang hidu dan hirap


Liur yang menetes di ujung bibir

Seolah membasahi ucapku 

Dalam gelembung doa

Di sepertiga malamMu


Merintih lirih di atas sajadah

Mencari jawaban dahayu

Yang telah lama dinanti


Probolinggo, 20 Januari 2022


Shakilla Merindu Kumbang


Awan hitam kala senja

Tersulut sumarah desir

Menyebak ranting kering

Menjalar ke sekujur tanah hitam


Masih berdiri kaku diambang pintu

Gerimis membasahi ujung kaki

Mengaku sedang pilu

Bergumam sendiri


Menunduk pilu

Terhanyut dalam lamunan temaram

Sambil menghitung denting jarum jam


Lalu dentum damai yang tersimpan

Meluap dari batin

Yang mendalam

Untuk kau yang akan kembali


Probolinggo, 20 Januari 2022

________________________________________________

Biodata:

Rahajeng lahir di Probolinggo, 12 April 1989. Dia mengikuti kelas belajar puisi di Asqa Imagination School dan bergabung di Comunity Pena Terbang (COMPETER)  dari tahun 2020 hingga saat ini. Dia pun pernah mendapatkan anugerah menjadi pemenang juara 2 dan 3 Asqa Book Award. Bisa dihubungi lewat melalui IG: @rah.ajeng12.

Kamis, 20 Januari 2022

LINTAH MEROBEK  ||Serafim Eforia Tulung

LINTAH MEROBEK ||Serafim Eforia Tulung

Gambar:Pixabay.com

LINTAH MEROBEK 

Itu aku

Dunia balikan itu

Aku itu

Itu balikan dunia

Aku itu

Itu balikan dunia

O

-nalar 2021


BERTANYA

I. YANG PERTAMA

Boleh tidak aku bermain denganmu?

Hai kamu sang tak bercahaya, mati

Jangan, aku tidak akan bermain-main

Aku ingin bercanda saja

Sesekali, aku tak apa.

-Bidikan

II. YANG KEDUA

Boleh tidak? Aku minta

Minta untuk?

Untuk bisa?

Bisa melupakanmu?

Melupakanmu? Tidak.

-arahan

2021

Selasa, 18 Januari 2022

DUKA DALAM SENJA||Nur Indah Sutriyah

DUKA DALAM SENJA||Nur Indah Sutriyah

(Gambar: Pixabay.com)

Duka Dalam Senja


Kemarin,
Sebelum air itu tumpah
Sebelum resah berkalang duka
Setum-setum berkumandang ria di bawah kolong langit
Yang berkoloni memanjakan diri
Mereka berbondong-bondong datang mengisi kandang asa yang telanjang buta
Menjalin perhelatan pada gumpalan awan bergemuruh

Namun tiba-tiba mendung berarak meludahi
Kemudian memaksaku untuk terhenti 
Dalam gendongan berat sebelah, aku meradang 
Menjalin perhelatan pada gumpalan awan bergemuruh

Aih, indahnya simfoni yang direncanakan
Besitkan kematangan pada otakku yang tak karuan

Pasuruan, 31 Desember 2021



Hujan di Malam Selasa

Hari ke-7 dalam seminggu
Rinai hujan membungkus kepalsuan
Dalam ruang gelap engkau mengendap
Mencuri kesempatan dalam titik-titik bingkai perasaan
Namun semua semu
Hanya kuota hayal mengisi hadirmu

Pada malam setengah tiang
Bersama hujan di malam selasa
Dengan terbata lisanku mengeja huruf demi huruf, menjadi dua kata 
Dua kata dengan makna sempurna
Yang kemudian menjelma menjadi manusia seutuhnya
Ya, pada potret buram di sudut sana
Yang membingkai parasmu penuh rona
Penyejuk rindu dalam dahaga
Yang acap kali kupelihara di sudut hati penuh cinta
Dari hujan pertama hingga hujan ke tujuh di malam selasa 

Rindu memang merendam banyak rahasia
Pada rinai hujan dan temperatur cuaca
Padanya kutumpahkan kultum resah
Rinai hujan berubah seketika
Menjadi linangan anak sungai yang deras menghanyutkan jauh ke hulu
Dimana setiap harapan kita menggenggam karam disana

"Percayalah, aku akan menjadi melodi yang setia mengirama dalam degup jantungmu." 
Kataku saat bayangmu lewat di beranda netraku.

Pasuruan, 10 Januari 2022



Kegersangan Hati di Ladang Pinus

"Assalamualaikum, ini dengan siapa? Adakah yang mampu menjawab kehampaan dalam ruang gelap? Ingin sekali mengeja. Namun katup bibir masih terbata karena aksara yang biasa tertulis, menjauh bersama bau amis." Katanya di malam ke-22.

Hhhh, guratan dinding lapuk yang biasa memaksa mengendus masuk.
Terlalu biasa, tak ada secuil rasa merajuk.

Asal kau tahu, hutan pinus tak mungkin kembali kekar. Jika batang pohonnya kau tebang dengan puluhan depa gergaji yang garang.

Aku tak peduli dengan pepohonanmu yang rindang meski menjulang tinggi memeluk awan.
Aku juga tak peduli jika suatu saat nanti pohon itu tua, lalu memilih lapuk di telan masa. Kemudian gelimpang dan jebol sampek akar-akarnya tercecer di tanah. Aku pun tak peduli.

"Why? Apa salahku?" Kata si kutu rambut, pembuat otak semrawut.

"Sebab aku sudah tak punya hati, karena 95% tlah kau babat berkali-kali. Aku tak bergeming akan keindahan hutan yang kau suguhkan. Karena disini, di pelataran yang sempat tandus karena wedus gembelmu, aku belajar menanam bibit-bibit pohon baru hasil dari meditasi tiga hari tiga malam waktu itu. Pohon itu memang baru ditanam. Masih terlalu kerdil tuk ditebang. Tapi suspensinya mumpunyai intuisi di masa mendatang. Yang kelak membawaku ngawang di istana Aphrodite. Aku yakin." Kataku sembari jemari menari puas di atas layar kaca.


Pasuruan, 02 Januari 2021

_____________________________________________________

Biodata

Mempunyai kepribadian sosial tinggi. Sehingga setiap harinya, ia mentransfer wawasan kepada anak-anak yang membutuhkan bimbingan. Selain itu, ia juga membantu memfasilitasi para pejuang online.
Mempunyai hobi menulis. Terutama puisi.
Mulai menekuni Puisi di tahun 2020. Hingga di tahun 2021, ia memperdalam wawasannya dengan mengikuti kelas online puisi KPO dibawah bimbingan Muhammad Asqalani Eneste, Mentor dan sekaligus Pendiri KOMPETER INDONESIA.
Saat ini, ia tergabung dengan Komunitas KOMPETER INDONESIA.